Sabtu, 15 Agustus 2026

Koding, Kecerdasan Artifisial dalam Konteks Deep Learning



 




https://kodingka.kemendikdasmen.go.id/pembelajaran/
https://kodingka.kemendikdasmen.go.id/dokumen/

Koding, Kecerdasan Artifisial dalam Konteks Deep Learning

SUYANTO
Ketua Dewan Pendidikan Nasional, Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Negeri Yogyakarta

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah mencanangkan dua program nasional penting yang bersamaan: Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). Di banyak sekolah, keduanya kemudian dipahami sebagai dua program yang sederajat. Guru mengikuti pelatihan PM pada satu kesempatan dan KKA pada kesempatan lain. Sekolah kemudian menunjuk penanggung jawab, lalu melaporkannya melalui jalur yang berbeda sehingga seolah-olah keduanya berjalan bersama, tetapi setelah itu saling terpisah.

Inilah miskonsepsi yang harus segera diluruskan. PM dan KKA memang sama-sama mendukung transformasi pembelajaran, tetapi keduanya memiliki tujuan dan ruang lingkup yang berbeda. KKA menjawab pertanyaan tentang yang dipelajari murid dalam menghadapi dunia digital, terutama menjawab bagaimana proses belajar harus berlangsung agar pengetahuan, keterampilan, karakter, dan tanggung jawab murid terbentuk secara utuh. Sementara itu, PM bukan pesaing ataupun pengganti KKA. PM merupakan payung pedagogis yang menaungi pembelajaran KKA.

KEMAMPUAN BERPIKIR

Secara kebijakan, KKA dikembangkan sebagai mata pelajaran pilihan, kegiatan ekstrakurikuler, sejak kelas 5 SD sampai kelas 12 SMA, atau dapat dijadikan materi yang dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran lain sesuai kesiapan sekolah.

Adapun PM bukan tambahan jam pelajaran dan bukan mata pelajaran baru tersendiri. PM bekerja di dalam proses pembelajaran mata pelajaran apa pun di sekolah. Perbedaan ini penting untuk diketahui guru dan kepala sekolah karena kesalahan memahami keduanya akan berakibat pada pelaksanaan di sekolah.

KKA diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir komputasional, menganalisis data, algoritma, pemrograman, literasi digital, dan etika kecerdasan artifisial. Pembelajarannya juga tidak dimaksudkan semata-mata untuk penggunaan teknologi, tetapi demi membangun kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah secara kontekstual.

Namun, tujuan tersebut tidak akan tercapai hanya dengan menyediakan komputer, mengenalkan aplikasi, atau mengajarkan bahasa pemrograman. Murid mungkin mampu menyusun kode yang berjalan, tetapi belum tentu mampu memahami masalah yang diselesaikan, memilih solusi, manfaat produknya, ataupun risiko sosial dan etikanya.

BERKESADARAN, BERMAKNA, DAN MENGGEMBIRAKAN

Tanpa PM, pembelajaran KKA mudah terjebak dalam teknosentrisme: teknologi ditempatkan sebagai tujuan, bukan alat untuk menginspirasi, memudahkan, dan memberdayakan murid secara bermartabat.

Keberhasilan lalu diukur dari berfungsinya aplikasi, kecanggihan produk, atau banyaknya perintah yang mampu diberikan kepada mesin. Padahal, produk digital yang berfungsi belum tentu bermanfaat, algoritma yang efisien belum tentu adil, dan jawaban yang dihasilkan kecerdasan artifisial belum tentu benar. Sekolah dapat melahirkan pengguna teknologi yang cekatan, tetapi pasif secara intelektual dan lemah secara moral.

PM mencegah reduksi tersebut melalui prinsip belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Berkesadaran berarti murid mengetahui tujuan belajarnya, memahami proses berpikirnya, dan menyadari tanggung jawab penggunaan teknologi digital. Dalam pembelajaran kecerdasan artifisial, murid tidak cukup bertanya, “Bagaimana menghasilkan jawaban?”

Mereka juga perlu bertanya, “Dari mana datanya, apakah jawabannya dapat dipercaya, siapa yang mungkin dirugikan, dan keputusan apa yang tidak seharusnya diserahkan kepada mesin?”

Bermakna berarti konsep KKA dihubungkan dengan persoalan nyata. Murid dapat menggunakan pemikiran komputasional untuk merancang pengelolaan sampah sekolah, memetakan kebutuhan perpustakaan, membantu proyek pendukung lokal, atau mengidentifikasi informasi palsu.

Dengan demikian, koding tidak berhenti sebagai latihan sintaksis. Ia harus menjadi alat untuk memahami realitas, memperkaya kreativitas, dan menghasilkan solusi yang berguna.

Menggembirakan bukan berarti pembelajaran harus selalu berupa permainan atau kuis. Kegembiraan lahir ketika murid merasa tertarik mencoba, berani melakukan kesalahan, memperbaiki hasil yang kurang akal, bekerja sama, dan menemukan jalan keluar setelah mengalami kegagalan.

Kesalahan kode bahkan bukan buah untuk mempermalukan murid, melainkan pintu masuk bagi penalaran, umpan balik, dan perbaikan.

Pengalaman belajar PM — memahami, mengaplikasi, dan merefleksi — juga harus tampak dalam KKA. Murid memahami konsep dan mengaplikasikannya untuk menyelesaikan masalah, kemudian merefleksikan proses, kualitas hasil, keakuratan data, keberpihakan, bias, orisinalitas, hak cipta, serta dampak sosialnya.

Penilaian tidak boleh hanya memeriksa apakah program dapat dijalankan. Guru perlu menilai argumentasi, strategi pemecahan masalah, kolaborasi, kreativitas, kemampuan memperbaiki kesalahan, dan pertimbangan etik.

KOMPETENSI TEKNIS DAN PEDAGOGIS

Kepala sekolah, oleh karena itu, tidak boleh melihat PM dan KKA sebagai dua proyek administratif yang terpisah. Keduanya harus dipertemukan dalam praktik pembelajaran.

Pelatihan guru, supervisi akademik, komunitas belajar, dan penyediaan perangkat harus mendukung kompetensi teknis sekaligus kompetensi pedagogis.

Pertanyaannya bukan hanya apakah guru mampu mengajarkan KKA, tetapi apakah guru mampu mengajarkannya secara bermakna, mendalam, dan bertanggung jawab.

KKA tanpa PM berisiko menjadi sekadar latihan teknis yang dangkal. PM tanpa KKA dapat kehilangan konteks untuk mengembangkan kemampuan murid menghadapi dunia digital yang semakin kompleks.

Keduanya harus dipadukan: KKA memberi konteks dan kompetensi teknologi, sedangkan PM memberi kedalaman pedagogis, kesadaran, makna, refleksi, dan tanggung jawab.

Dengan pendekatan yang tepat, pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial tidak hanya menghasilkan murid yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga murid yang mampu berpikir kritis, kreatif, reflektif, etis, dan bertanggung jawab.



Koding, Kecerdasan Artifisial dalam Konteks Deep Learning

  https://www.youtube.com/watch?v=fjVESYU0iH8 https://www.youtube.com/watch?v=9qyp8pIFgJs https://www.youtube.com/watch?v=LHAjaDPj7x4 https:...