Selasa, 28 Juli 2026

Studio Guru dan Masa Depan Pendidikan Digital

 

















Studio Guru dan Masa Depan Pendidikan Digital

Penulis:

Muhammad Muchlas Rowi

Staf Khusus Mendikdasmen

 Anak-anak zaman sekarang betah menatap layar gawai berjam-jam untuk menonton konten kesukaan mereka tanpa berkedip. Jemari mereka menari lincah, menyerap miliaran piksel warna, animasi, dan narasi cepat. Stimulus tanpa henti ini lantas membanjiri ruang kognitif mereka dengan kesenangan instan akibat pembajakan dopamin (dopamine hijacking) melalui algoritma variable reward.

Namun, anak-anak yang sama bisa langsung mengantuk, jenuh, dan kehilangan fokus hanya dalam tiga menit pertama saat dipaksa menonton video pembelajaran formal di platform digital pendidikan. Kontras yang ironis ini menyiratkan satu kebenaran pahit: digitalisasi pendidikan kita selama ini tenyata baru menyentuh kulit luar berupa pemindahan medium (digitalisasi fisik).

Kita belum berhasil mengemas materi akademis yang kaku menjadi seinteraktif, seadaptif, dan sekejut algoritma media sosial. Akibatnya, kita gagal memenangkan perang kognitif melawan serangan konten pendek media sosial yang memicu turunnya konsentrasi (Declining Attention Span) dan pecahnya fokus anak (Continous Partial Attention).

Disinilah gagasan Presiden Prabowo Subianto mendirikan “Studio Guru” menemukan urgesinya: Sebuah langkah krusial untuk mengakhiri anomali sekaligus mengebalikan perhatian murid yang selama ini diculik layar gawai.

Jika ditakar secara makro, jumlah guru di Indonesia yang mencapai lebih dari 3,4 juta orang sebenarnya relatif cukup untuk memenuhi rasio murid yang sangat ideal, yakni rata-rata 1:15 untuk tingkat SD. Namun, angka statistik ini menyimpan paradoks geografis yang akut: distribusi guru sangat timpang.

Di saat hampir setengah juta guru (493.987 orang) menumpuk di Jawa Barat, wilayah remot seperti Papua Pegunungan hanya memiliki 8.046 guru dan selalu menjadi korban yang paling ringsek karena sulit mendapatkan serta mempertahankan guru berkualitas tinggi secara merata. Selama ini, solusi yang ditawarkan seringkali terlalu repetitif, seperti mengirim guru baru ke pedalaman atau menggelar penataan guru secara konvensional.

Jika ditakar secara makro, potret data DAPODIK per Mei 2026 menunjukkan agregat pendidik di sekolah negeri kita sebenarnya telah mencapai angka 2.169.437 orang. Namun, statistik ini menyimpan paradoks geografis yang akut di lapangan: distribusi guru kita masih sangat timpang.

Data DAPODIK juga mencatat bahwa kebutuhan riil guru ASN saat ini masih berada di angka 561.676 orang. Bahkan, setelah kementrian melakukan skema optimalisasi ketat berbasis multisubject dan perumpunan mata pelajaran, angka kebutuhan mutlak itu masih bertengger di posisi 464.856 guru. Selama ini, intervensi kebijakan yang diambil seringkali terjebak dalam pola repetitif: memaksakan redistribusi dan penataan guru secara konvensional untuk menambal rombel-rombel yang kosong di daerah pelosok.

Pendekatan mutasi fisik ini tidak hanya melelahkan secara logistik, tetapi juga kurang efisien dari kacamata fiskal. Ditambah lagi, berbagai riset internasional, termasuk laporan berkala dari Bank Dunia, berulang kali menunjukkan bahwa pelatihan guru model penataran fisik berskala masif di pelosok memiliki tingkat efisiensi yang rendah. Selain memakan biaya operasional yang sangat mahal, dampak jangka panjangnya terhadap peningkatan hasil belajar murid di kelas sering kali tidak signifikan akibat tingginya angka mutasi guru (turnover) dan tiadanya standar pengajaran yang konsisten.

Jika tidak ada lompatan kebijakan yang radikal, proyeksi kelam Bank Dunia dalam laporan The Promise of Education in Indonesia akan menjadi nyata: kita butuh waktu 50-an tahun hanya untuk mengejar skor rata-rata OECD. Memaksa memindahkan jutaan manusia ahli ke ribuan pulau adalah kemustahilan logistik yang membentur dinding ketimpangan spasial (spatial inequality). Solusinya bukan memindahkan gurunya, melainkan memindahkan kualitas mengajar terbaiknya secara digital.

Disinilah signifikansi integrasi PID dan Studio Guru gagasan Presiden Prabowo menemukan jangkar ilmiahnya. Pembawaan konvensional yang didominasi ceramah guru satu arah sering kali gagal di wilayah 3T karena memicu kelebihan beban kognitif (cognitif overload) pada memori kerja siswa yang membutuhkan Usaha Kognitif (cognitive effort) terlalu besar tanpa stimulasi yang tepat.

Mekanisme kognitif manusia sejatinya menuntut keharmonisan yang presisi antara apa yang didengar dan apa yang dibayangkan. Meminjang teori Dual-Coding profesor psikologi kognitif dari Universitas Western Ontario, Kanada, otak manusia memproses informasi melalui dua jalur terpisah yang saling melengkapi: jalur verbal (auditori) dan jalur visual (gambar). Ketika anak-anak di pedalaman dipaksa mencerna konsep sains yang abstrak hanya lewat pendengaran dan teks linear, jalur visual mereka mati.

Aset digital yang diproduksi oleh Studio Guru, dikemas dengan pendekatan Microteaching & Edutainment, dan diproyeksikan lewat PID bertindak sebagai instructional Scaffolding (perancah instruksional). Teknologi ini menyelaraskan kedua jalur pemrosesan otak tersebut melalui animasi konsep visualisasi spasial, simulasi dan grafik dinamis yang dipoles lewat standar post-production yang kompetitif.

Konsep ini sekaligus memindahkan konsumsi digital dari gawai pribadi penuh distraksi game ke dalam ‘bioskop pembelajaran’ komunal di depan kelas. Murid di pedalaman Papua atau pulau terluar Maluku tidak lagi meraba-raba abstraknya rumus matematika, karena mereka bisa melihat bagaimana rumus itu bekerja di layar interaktif.

Studio Guru

Pengalaman Byju’s di India memberikan bukti empiris berskala massal terkait efektivitas formula ini. India, yang memiliki tantangan geografis dan ketimpangan kualitas guru yang serupa dengan Indonesia, sempat menyaksikan bagaimana seorang insinyur non-guru mampu merevolusi cara belajar jutaan anak melalui kekuatan storytelling dan pemecahan masalah nyata.

Sebelum beralih ke dunia digital, Byju Raveendran memulai gerakannya secara masif dengan menyewa stadion olahraga untuk mengumpulkan ribuan murid. Di bawah kepungan ribuan pasang mata, ia menyulap matematika yang rumit menjadi sajian pembelajaran bak konser yang memikat. Katika ruang fisik tak lagi sanggup menampung ledakan dahaga belajar, ia pun memindahkan kejeniusan visualnya ke adalam rekaman studio, membangu system thinking, lalu mengalirkan kualitas pengajaran tersebut ke seluruh negeri.

Kita tentu harus membuang model bisnis keserakahan korporasi Byju’s yang membuatnya runtuh di kemudian hari akibat memaksa anak melakukan konsumsi digital secara pasif sendirian di rumah. Namun, kita wajib menyerap kejeniusan desain instruksionalnya: menaruh standar mengajar tertinggi dari sebuah studio ke dalam gawai dan papan digital di setiap ruang kelas terpencil sebagai jembatan menuju skor PISA yang mengutamakan penalaran, analisis teks, dan konten STEM melalui Komunitas Belajar Aktif.

Pertanyaan besarnya, bagaimana kita mendorong orkestrasi besar ini agar Studio Guru tidak berakhir menjadi sekadar proyek kosmetik birokrasi?

Langkah pertama adalah melakukan reorientasi peran guru. Kita harus mendorong guru-guru terbaik di negeri ini untuk melepaskan belenggu beban administrasi dokumen, lalu mengajak mereka untuk naik kelas menjadi konseptor instruksional. Lewat Studio Guru, negara harus mengundang dan mengawinkan para guru hebat ini dengan para animator profesional, desainer gim, serta para storyteller ulung guna menerapkan Prinsip Pemrosessan Aktif.

Otak seorang murid tidak boleh hanya memosisikan diri seperti wadah kosong yang pasif menerima ceramah (passive listening). Sebaliknya, otak harus dipaksa memilih informasi yang relevan, menatanya menjadi struktur mental yang logis, dan mengaitkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya (Mayer, 2009).

Selanjutnya, mari kita ketuk hati pihak-pihak yang selama ini menaruh kepedulian mendalam pada masa depan pendidikan bangsa. Studio Guru tidak boleh menjadi menara gading milik kementrian semata. Ini adalah panggung kolaborasi publik. Kita perlu memanggil para akademisi di kampus-kampus, organisasi kemasyarakatan, komunitas literasi, hingga para pegiat teknologi sektor swasta (EdTech) untuk menyumbangkan gagasan, aset visual, dan metodologi terbaik mereka.

Melalui kolaborasi ini, Studio Guru tidak tidak boleh sekadar mengejar kuantitas biasa. Platform ini harus berevolusi menjadi laboratorium kompetensi guru guna melahirkan ekosistem interaktif yang menyuntikkan aspek Pembelajaran Mendalam (deep learning) ke dalam setiap konten pembelajaran (siaran langsung maupun reakaman).

Pada akhirnya, digitalisasi pendidikan sejati bukan tentang seberapa banyak gawai yang berhasil kita bagikan atau seberapa megah perangkat yang terpasang di dinding kelas. Digitalisasi adalah tentang seberapa besar lompatan pemahaman yang berhasil kita hantarkan ke dalam benak anak-anak di seluruh pelosok Nusantara.

Sudah saatnya kita menyatukan visi, memerdekakan guru dari rutinitas administratif, dan memanfaatkan Studio Guru serta Papan Interaktif Digital untuk melahirkan keadilan sosial dalam pendidikan. Hanya dengan cara itulah, anak-anak kita, baik yang duduk di sekolah elite ibu kota maupun di bawah atap rumbia wilayat 3T bisa menatap layar suang kelas dengan binar mata yang sama. Terjaga, antusias, dan siap menjemput masa depan. (*)


Rabu, 07 Juli 2021

UNESA Implementasi Program Literasi Ramah Anak di Kabupaten Sidoarjo

Pusat Studi Literasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) telah mengimplementasikan program rintisan ‘Pelatihan dan Pendampingan Literasi Ramah Anak untuk Kelas Awal di Kabupaten Sidoarjo.’ Program kemitraan antara UNESA dan INOVASI ini  berlangsung sejak 12 September 2018 dan berakhir pada 11 Juli 2019.

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional para guru SD. Peningkatan kompetensi ini berdampak pada acara mereka mengajar di kelas sehingga keterampilan siswa meningkat. Selain itu, juga meningkatkan antusiasme sekolah dan kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi,” demikian penjelasan Kisyani, Ketua Pusat Studi Literasi UNESA.



Program yang dilaksanakan di 15 SD di wilayah Taman dan Sidoarjo ini menggunakan kerangka literasi berimbang. “Literasi Berimbang merupakan pendekatan pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan memahami dan menghasilkan informasi. Keseimbangan diperoleh melalui gabungan berbagai strategi pembelajaran dengan tujuan menghasilkan pembelajar yang kompeten dan literat,” papar Pratiwi Retnaningdyah, pakar literasi UNESA lulusan The University of Melbourne.

Wahyu Sukartiningsih menambahkan, “literasi ramah anak adalah pemahaman masyarakat dalam menempatkan isu hak anak dan perlindungan anak. Ramah anak dalam program ini merupakan konsep tentang perlindungan anak yang meliputi tiga hal, yakni perlindungan anak, ramah gender, dan ramah disabilitas.”

Lebih lanjut, pakar pendidikan anak ini berharap literasi ramah anak dipahami oleh seluruh penyelenggara pendidikan yang meliputi Dinas Pendidikan, pengawas, kepala sekolah, dan guru. Selanjutnya, dalam penyelenggaraan pendidikan, literasi ramah anak ini menjadi bagian tak terpisahkan dalam penentuan kebijakan pendidikan. Dampaknya literasi ramah anak diimplemetasikan oleh guru di kelas dengan melibatkan orang tua dan masyarakat. Contoh sederhananya, guru memilih dan mengembangkan materi pelajaran yang ramah anak.

Tia Retno Ayu Santoso, Guru SDN Cemengkalang Kecamatan Kota, Kabupaten Sidoarjo merasakan manfaatnya setelah didampingi oleh UNESA. “Yang paling terlihat setelah mendapatkan pendampingan dari UNESA adalah kecepatan siswa kelas I dalam membaca dan memahami bacaan meningkat. Mereka kini telah mampu menulis cerita dalam beberapa paragraf meskipun dengan bahasa yang sederhana,” terangnya.

Referensi :

https://www.inovasi.or.id/id/story/unesa-implementasi-program-literasi-ramah-anak-di-kabupaten-sidoarjo/

https://www.inovasi.or.id/worksheet/lembar-kerja-siswa-lks-kelas-1-sd-mi-literasi/


Selasa, 06 Juli 2021

Cerdas Berkarakter

 




Referensi :

https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id/jadwal-program-belajar-dari-rumah-bdr-di-tv-edukasi-21-s-d-25-juni-2021/
https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id/category/panduan-dan-surat-edaran/panduan/
https://www.youtube.com/watch?v=mX2buBdB3Tk&list=PLR7mmuJtxC0XXOA7s_GMfSG0cALryR_SU&index=5
https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/aksi/mengenal-portfolio-dengan-google-slides/
https://sites.google.com/refoindonesia.com/indonesiacovid19eduwebinars/home







Rabu, 05 September 2018

Model Pembelajaran

Kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.



Tujuan 

Setelah mempelajari materi pada kegiatan pembelajaran Double Track Multimedia, Siswa dapat memahami menerapkan dan membuat aplikasi multimedia seperti advertising, pengolahan foto, pengolahan video.

Indikator Pencapaian Kompetensi

Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, siswa dapat :
1. Menjelaskan pengertian, pendekatan, metode, teknik pengolahan foto dan pengolahan video
2. Bisa membuat iklan pendek
3. Mampu melakukan editing dan perbaikan foto
4. Editing gambar video dan subtitle

Uraian Materi 

Multimedia dapat disajikan dalam beberapa metode, antara lain :
  • Berbasis kertas (Paper-based), contoh : buku, majalah, brosur.
  • Berbasis cahaya (Light-based), contoh : slideshows, transparansi.
  • Berbasis suara (Audi-based), contoh : CD Players, tape recorder, radio.
  • Berbasis gambar bergerak (Moving-image-based), contoh : televisi, VCR (Video Cassete Recorder, film.-
  • Berbasis Digital (Digilatally-based), contoh : komputer.


Pendekatan Pembelajaran

Cara pandang pendidik yang digunakan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dan tercapainya kompetensi yang ditentukan.
  • Student centered Learning
  • Teacher centered Learning
  • Contextual Teaching and Learning 
Contextual Teaching and Learning merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Strategi Pembelajaran

Urut-urutan kegiatan yang akan dilakukan untuk menyampaikan materi pembelajaran.

Teknik dalam pembelajaran

Cara penerapan suatu metode dengan latar tertentu seperti kemampuan dan kebiasaan guru, ketersedian peralatan belajar, kesiapan siswa dsb.
Hubungan pembelajaran


Model Pembelajaran

Kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.


Contoh Model

Model Production Based Teaching


JobSheet Siswa

Aktivitas Guru

Teknik Penilaian


DUDI-Mitra Gofood



Sistem Monitoring

Referensi


  1. Pengertian Model Pembelajaran
  2. Pengertian Multimedia
  3. Model Pembelajaran Terpadu
  4. Instrumentasi model
  5. Indikator dan Hasil Belajar
  6. Media pembelajaran Bahasa Inggris
  7. Model Pembelajaran Tata Boga
  8. Kumpulan resep

Minggu, 25 Maret 2018

Membuat Game Windows dengan Construct

Construct 2 adalah sebuah software yang dapat di gunakan untuk membuat game pada windows 8, construct 2 merupakan developing tool yang sangat mudah digunakan oleh orang awam atau pun yang tidak munguasai koding.

Untuk dapat menggunakan construct 2, software tersebut dapat di donwload di scirra.com dengan gratis atau pun berbayar. Dan beruntunglah untuk developing game di windows 8 kita tidak perlu repot membeli construct 2 dengan versi berbayar, karena untuk construct 2 versi gratis pun sudah bisa untuk developing game windows 8 sampai publish ke Windows Store.

Langkah-langkah untuk membuat Game :

  1. Download software construct versi gratis melalui link berikut https://www.scirra.com/.
  2. Lalu download juga asset game yang nanti akan kita gunakan http://http://1drv.ms/1nfsGBf.



Referensi :

  1. Doris Chen Blog
  2. Gameartguru
  3. Arief Blog
  4. Membuat Game dengan Construct

Rabu, 21 Maret 2018

Publishing Game dari Construct Engine

Game yang telah dibuat dapat di eksport ke berbagai jenis platform.

  1. Web HTML melalui Browser
  2. Android dengan Phonegap
  3. Android dengan websitetoapk

HTML5-Dropbox





Google Drive




Embedding HTML



Export to Server


HTML5 - Phonegap





Websitetoapk












Efface Studio



Windows Platform


Rabu, 29 Juni 2016

Menyiapkan Guru di Era Mobile Learning


Bertempat di SMK 1 Surabaya tim Pelatihan Indie School untuk pembuatan aplikasi mobile learning memulai aktivitasnya melatih kurang lebih 60 bapak/ ibu guru membuat aplikasi mobile learning, sebuah media pembelajaran bagi siswa yang bisa berjalan di handphone atau tablet.

Mobile learning sendiri merupakan sebuah metode pembelajaran baru yang memaksimalkan penggunaan teknologi perangkat handphone saat ini untuk pembelajaran. Sebagaimana diketahui, sekarang ini siswa lebih sering membuka dan memanfaatkan handphone daripada membuka buku untuk belajar. Jika keadaan ini tidak disiasati maka siswa lama-kelamaan merasa membuka buku untuk belajar adalah sebuat keterpaksaan yang tidak ada menariknya.

Melarang siswa untuk tidak membawa perangkat handphone atau tablet ke sekolah adalah kurang bijaksana dan hanya akan membuat siswa mencuri waktu sembunyi-sembunyi membuka handphone. Cara yang paling tepat adalah mengisi handphone dengan media-media pembelajaran yang bisa dibuka dan dimainkan siswa dimanapun dan kapanpun. Tidak peduli sedang di angkot, taman, atau restoran tetap bisa membuka pelajaran.

Tools Exelearning dan PhoneGap


Untuk memanfaatkan perkembangan teknologi mobile tersebut Indie School bekerjasama dengan beberapa sekolah mengadakan workshop pembuatan aplikasi mobile learning. Tools yang dipakai untuk membuat aplikasi mobile learning menggunakan software aplikasi ExeLearning dan PhoneGap.

Selama pelatihan peserta yang terdiri dari bapak/ibu guru diajarkan mengenai membuat materi ajar dengan html5, mengatur teks dan menyusun gambar. Menyisipkan video menarik dalam pelajaran, dan tak kalah pentingnya membuat himpunan soal untuk evaluasi. Setelah semua bahan ajar siap dalam format html5, kemudian mengaktifkan PhoneGap, untuk distribusi aplikasi ke bentuk Android Application dan IOS, yang bisa dijalankan di hp ataupun iphone.

Sebagai proyek akhir untuk memenuhi 42 jam pelatihan sebagaimana pelatihan tersertifikasi, peserta diberi tugas untuk membuat materi pembelajaran berbasis mobile sesuai dengan bidang studi yang diajarkan di kelas.

Informasi selengkapnya mengenai kelas khusus aplikasi mobile learning, media pembelajaran dengan handphone dari indie-school bisa menghubungi www.indie-school.com atau HP/WA : 087858561237

Sabtu, 18 Juni 2016

Update Perkembangan Anak di Sekolah dengan Software Sekolah

Bagi para orang tua, mengetahui perkembangan anaknya di sekolah merupakan hal yang sangat penting. Pada umumnya, wali muridlah yang sering kali menjadi tempat bertanya para orang tua ini. Seiring dengan hadirnya aplikasi chatting, para wali kelas biasanya akan membuat satu grup khusus orang tua murid untuk memberi mereka update tentang kegiatan yang terjadi di sekolah. 

Meski bisa menyampaikan informasi dengan cepat, penggunaan media tersebut kurang efektif. Karena aplikasi chaating pada dasarnya tidak dirancang atau dibuat untuk mengakomodasi kebutuhan sekolah.

Permasalahan tersebut dijawab dengan hadirnya aplikasi softwaresekolah.com yang dibangun oleh tim Inosoft Trans System/ ITS, yang dirancang mengikuti alur bisnis kebutuhan sekolah sesuai dengan kurikulum terkini yang berlaku. Aplikasi softwaresekolah.com merupakan aplikasi yang menghubungkan guru, wali murid, dan siswa untuk tetap update tentang berbagai kegiatan serta perkembangan anaknya di sekolah.

Komunikasi Lebih efektif


Aplikasi ini merupakan Learning Management System yang mengatur pembayaran, akademik, dan juga monitoring tumbuh kembang anak di sekolah. Dengan aplikasi ini memungkinkan orang tua berkomunikasi secara langsung dengan entitas sekolah, serta menerima update terbaru rencana pembelajaran, ataupun PR yang harus dikerjakan di rumah, yang membutuhkan bimbingan ibu bapak wali murid. Menggunakan aplikasi ini membuat orang tua tidak lagi ketinggalan informasi anaknya di sekolah-always connected dengan anak dan sekolah.

Selain memudahkan komunikasi guru dan orang tua, software sekolah juga menyediakan platform teknologi mobile app, yang bisa diakses melalui smartphone ataupun Tablet.Untuk informasi lebih lengkap mengenai software sekolah ini bisa menghubungi HP/ WA. 087858561237.

Menyiapkan Ujian Harian Layaknya UNBK

Persiapan menghadapi ujian online seringkali menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Kebiasaan melaksanakan ujian dengan menuliskan jawaban di kertas, membuat kesulitan tersendiri ketika Ujian Nasional dilaksanakan dengan Berbasis Komputer online. Belum lagi mereka harus belajar sangat keras mengikuti serangkaian try out, dan membeli beragam buku soal ujian untuk mengasah kemampuannya.

Untuk mengatasi hal ini Indie-School bekerjasama dengan Pikti-ITS menyediakan tenaga profesional dibidang Teknologi Pembelajaran yang siap menjadi fasilitator pelatihan UNBK Ujian Nasional Berbasis Komputer, dan juga menyiapkan teknologi yang bisa digunakan oleh Guru Sekolah untuk melaksanakan ulangan harian sebagaimana Ujian Online.


Dalam pelatihan yang diselenggarakan, bapak ibu guru akan dikenalkan dengan Teknologi LMS, Learning Management System, Pengaturan kelas E-Learning, Penyajian Materi, Penyiapan evaluasi tes yang teracak otomatis, serta sistem Grading penilaian. Semuanya didukung dengan teknologi informasi terkini yang teruji meningkatkan profesionalitas Guru, dan juga peningkatan Proses Belajar Mengajar.

Ada dua program pelatihan yang ditawarkan, dalam bentuk in-house training di lokasi sekolah, atau bisa juga dilaksanakan di ITS dengan mengirimkan guru-guru yang akan dilatih di dalam penggunaan Teknologi Pembelajaran. Untuk informasi lebih lengkap Program Teacher Learning Technology atau TLT ini bisa menghubungi HP/ WA. 087858561237.

Senin, 06 Juni 2016

Sistem Profesor untuk Sekolah Baru

*) Dahlan Iskan

Inilah jenis sekolah yang tumbuh pesat di Amerika Serikat: charter school. Bukan negeri. Bukan pula swasta.
Pendiri sekolah jenis ini umumnya guru. Yang punya jiwa keguruan 24 karat. Yang prihatin terhadap mutu pendidikan.
Maksudnya: pendidikan di sekolah negeri. Terutama di lingkungan tempat tinggalnya.

Misalnya Tyler Bastian ini. Awalnya dia guru SMA. Untuk mata pelajaran pembentukan karakter. Sesuai dengan prodi saat kuliah dulu.
Bastian prihatin dengan karakter remaja di lingkungannya. Begitu banyak yang drop out. Alasannya macam-macam. Intinya: sekolah tidak menarik bagi mereka.
Bastian lantas mengajak beberapa guru bergabung. Mendirikan charter school. Mereka menyusun pengurus. Bastian ketuanya.



Sejak 15 tahun lalu sebagian negara bagian memang mengizinkan berdirinya jenis sekolah baru ini. Bastian mau itu.
Langkah kedua: Bastian menyusun charter. Tebalnya 200 halaman. Mirip anggaran dasar: sekolah seperti apa yang diinginkan. Dan seperti apa kurikulumnya.
Berikutnya: Bastian menyusun program. Bagaimana mengusahakan bangunan, peralatan, mencari guru, mencari murid, dan mencari sumber dana.
Semua dokumen itu diajukan ke pemerintah negara bagian. Setingkat pemda provinsi di sini.
”Setahun saya mempersiapkan semua itu,” ujar Bastian saat saya mengunjungi sekolahnya. ”Tahun berikutnya sudah mendapat persetujuan.” Tahun ketiga sekolah dimulai.
Persetujuan itu penting: untuk mendapatkan biaya dari pemerintah. Besarnya Rp 70 juta (USD 5.000) per siswa per tahun. Memang itu tidak cukup. Tapi lumayan. Lebih dari 70 persen biaya sekolah. Menurut Bastian, di sekolahnya, per siswa menghabiskan USD 7.000/tahun.
Dia harus mencari sumbangan untuk menutup kekurangannya. Dia tidak boleh mencukup-cukupkan biaya dari pemerintah itu. Dia harus memenuhi komitmen mutu pendidikan sesuai dengan charter yang sudah dia buat.
Sekolah milik Bastian ini berada sekitar 20 km dari pusat Kota Salt Lake City, Utah. Namanya: Roots Charter High School. Bangunannya masih sewa. Bekas gedung kesehatan.
”Saya beri nama Roots agar siswa belajar mengenai akar semua masalah kehidupan,” ujar Bastian.

Memasuki ruang kelas sekolah ini, saya tidak kaget. Inilah ruang kelas SMA di Amerika: siswanya boleh pakai kaus, sandal, topi, dan celana pendek. Saya lihat seorang siswi membawa anjing ke kelas.
Duduknya pun boleh sesukanya: duduk manis, selonjor, kaki di atas kursi, dan sebagainya. Susunan kursi juga tidak harus rapi berderet.
Boleh beberapa kursi menggerombol memisah dari kursi lain. Tidak ada meja. Hanya kursi. Yang ada tempat buku atau laptopnya. Umumnya murid sibuk dengan laptop masing-masing.
Gurunya pun tidak di depan kelas. Keliling mendatangi murid yang memerlukan supervisi. Murid lain boleh berdiri di dekat guru. Ikut mendengarkan. Atau tidak.
Hari itu, 18 April lalu, saya melongok ke tiga kelas: matematika, sejarah, dan kimia. Semua mirip adanya: guru bersikap seperti teman murid. Pakaiannya pun semaunya.
Bastian juga menyewa lahan berjarak sekitar 100 meter dari sekolah. Untuk praktikum. Saya juga mengunjunginya. Untuk melihat kekhasan sekolah ini.
Seorang siswi dengan celana jins sedang memaku papan. Untuk bedeng tanaman sayuran. Tujuh siswa/siswi berada di kandang kambing.
Mereka mempraktikkan cara menyayangi anak kambing: merangkulnya di pangkuan, mengelus bagian yang disuka dan memeluknya. Menurut ilmu menyayangi kambing, bagian leher bawahlah yang harus dielus.
Tentu kandang kambing ini mengingatkan akan masa remaja saya: menjadi penggembala kambing. Saya sudah biasa menggendong anak kambing, membantu kelahiran, dan memandikan kambing. Tapi tidak secara ilmiah begini.
Segerombol siswa lagi memperhatikan temannya memandikan sapi. Seorang guru memberi contoh sesuai dengan ilmu memandikan sapi.

Dulu pun saya biasa membantu memandikan kerbau. Tapi, menungganginya dulu sepanjang jalan menuju sungai. Sambil meniup seruling.
Bastian adalah orang pertama yang mendirikan charter school berbasis pertanian dan peternakan. Relevan dengan situasi lingkungan sekolah. Siswa ternyata suka pelajaran di luar kelas. Ada unsur kegiatan fisik dan luar ruang.
Charter school memang dimaksudkan sebagai koreksi. Terutama terhadap rendahnya mutu sekolah negeri. Pelopornya seorang profesor dari Massachusetts. Namanya Ray Budde. Ketua persatuan guru AS.
Profesor itu pula yang mengajukan reformasi pendidikan pada tahun 1974. Sekolah negeri dia anggap terlalu kaku. Karena bukan berdasar inisiatif masyarakat. Tapi, baru tahun 1974 ada satu negara bagian, Minnesota, yang menerima ide charter school Prof Budde.
Sejak itu charter school menggelinding dengan kecepatan Star Wars. Kini sudah 43 negara bagian yang menerapkan. Jumlah charter school sudah mencapai 5.000 sekolah. Terbukti pula, kualitas pendidikannya lebih baik.

Tidak sembarang guru bisa mengajar di charter school. Harus yang bersertifikat. Yang benar-benar terpanggil jiwa keguruannya. Bastian punya delapan guru untuk Roots High School. Tiap guru gajinya USD 54.000 per tahun. Sekitar Rp 700 juta.
Keunggulan charter school adalah ini: tidak ada keseragaman. Ada yang mengutamakan matematika. Ada yang berbasis teknologi. Rekayasa mesin. Olahraga. Bebas. Tergantung bunyi charter yang dibuat.
Bastian puas dengan perjuangannya. Dia bekerja mulai jam 6 pagi sampai 6 sore. Mengajar dan menyiapkan keperluan sekolah. Dengan semangat.

Ketika saya memperhatikan anjing besar yang keluar masuk kelas, Bastian berhenti. ”Ini anjing sekolah,” katanya.
”Kalau ada siswa/siswi yang lagi suntuk, saya minta keluar untuk main-main dengan anjing ini.” Emosi siswa bisa reda.
Sebenarnya Bastian ingin bisa punya siswa sampai 300 orang. Tidak hanya 150 seperti sekarang. Tapi, dia belum bisa cari sumbangan lebih banyak. ”Sulit cari sumbangan. Orang Amerika itu kaya, tapi jiwanya rakus,” ungkapnya.
Bastian terpanggil mengurusi anak orang miskin sejak umur 19 tahun. Ketika dia jadi misionaris gereja Mormon di Honduras. Begitu miskin negara itu.
Dia sudah mendirikan sekolah di sana. Tiap tahun Bastian mengajak enam orang anaknya liburan di Honduras. Agar tahu bagaimana bisa membantu orang miskin.

Bahwa Bastian Mormon, memang begitulah umumnya orang Utah. Pihak-pihak yang rapat dengan saya di Utah semua aktivis Mormon. Misalnya yang ahli teknologi torium itu. Atau yang ahli ekonomi itu. Di sela-sela rapat saya menemui Tyler Bastian. Eh, Mormon juga.
Mayoritas penduduk Utah memang penganut Mormon: aliran Kristen yang membolehkan istri lebih dari satu, melarang makan babi, dan mengharamkan minuman keras.
Tentu saya juga mengunjungi Temple Square di Salt Lake City. Pusat gereja Mormon dunia. Yang umatnya kini sudah mencapai 15 juta. Antara lain karena Mormon melarang umatnya ikut KB.
Kembali ke lamanya perjuangan Prof Budde melahirkan charter school tadi, saya jadi merenung: di AS sekalipun memperjuangkan pembaharuan memakan waktu. Untung Prof Budde tidak gampang menyerah. (*)

Senin, 09 Desember 2013

Kenapa Belajar Lagi ....

Apakah kita pernah membayangkan kembali jaman dahulu, jaman sebelum Google muncul. Jaman sebelum internet dikenal seperti sekarang. Untuk mempertahankan hidup dan berjuang dalam kehidupan setiap manusia mengalami siklus belajar. Siklus ini dimualai dengan mendengarkan cerita, mencatat, mengingat, kemudian baru bertindak. Siklus cerita, mencatat, mengingat, presentasi, berjalan puluhan tahun hingga di definisikan sebuah profesi. Masih ingat pekerjaannya apa maka dijawab perkejaannya sebagai pelajar. Dan sebagai pendukung profesi ini adalah profesi Guru. Pemberi pelajaran. Pertanyaannya adalah jika Guru ingin belajar kemana lagi dia harus belajar. Oke Guru akan cari Guru yang lebih tinggi. Tetapi disadari apa tidak problem pengalaman akan mendukung pembelajaran.

Studio Guru dan Masa Depan Pendidikan Digital

  https://www.youtube.com/watch?v=KRo16fY5QZ4&list=PLKnB100k_YZlj2hpLfOGGU0QigpBJDmaB https://byjus.com/ https://koranindopos.com/studio...